Sabtu, 29 April 2017

The Crossing of Ingo by Helen Dunmore – Meraih keseimbangan

Jika manusia bisa melakukan Penyebrangan Ingo, mungkin ada harapan untuk masa depan yang lebih baik, di mana semua orang berhenti berperang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan tidak lagi berusaha menghancurkan segala sesuatu yang berbeda. – Saldowr


Judul asli: The Crossing of Ingo
Judul terjemahan: Penyebrangan Ingo
Series: Buku keempat dari tetralogi Ingo
Pengarang: Helen Dunmore
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedua - Desember, 2013
Tebal buku: 376 halaman
Format: Paperback
Genre: Fantasy
ISBN: 978-979-22-6158-5

April sudah mau berakhir namun reading slump-ku sepertinya kambuh. Sulit memulai membaca buku baru. Entah karena apa. The Crossing of Ingo ini saja sudah kumulai sejak akhir Maret dan baru awal April bisa kuselesaikan. Lalu setelah itu, hening. Tidak ada lagi buku yang kuselesaikan di April ini. Hmm, entahlah. Semoga dengan memulai mencicil tunggakan review yang ada bisa membantuku mengatasi reading slump ini.

Baiklah, kembali mengingat awal mula membawa pulang buku atau lebih tepatnya serial ini. Saat itu akhir tahun dan pelataran parkir Gramedia penuh tumpukan buku diskon. Sulit sekali untuk menghindarinya dan aku pun mulai kalap. Di malam itu aku membeli banyak buku dan salah satunya adalah tetralogi Ingo. Lengkap, full series. Aku tidak tahu harga awal tetralogi yang terbit tahun 2013 yang kupegang ini. Yang jelas saat itu harga per bukunya hanya goceng a.k.a. lima ribu saja. Syukurlah semua buku dalam tetralogi tersebut lengkap. Aku pun suka dengan jalinan kisahnya saat membaca blurb-nya. So, why not? Aku pun membawa semuanya ke kasir.

Sebagai penyuka kisah fantasi, dan kaver unyu (terutama kaver seri pertamanya), aku berharap sedikit dengan tetralogi ini. Tidak berharap banyak karena belum pernah mendengar apapun tentang Helen Dunmore (mungkin karena referensi baca yang minim, hehe). Pun judulnya aneh Ingo. Apa artinya coba? Ya, tampaknya aku cukup dibuat penasaran. Dan euforia berhasil menemukan semua buku di tetralogi ini sepertinya lebih dominan menguasaiku ketika awal perjumpaan, hihi.

Aku mulai membaca seri pertamanya bulan Maret lalu (klik di sini untuk membaca reviewnya). Ternyata aku bisa sangat larut ke dalam kisahnya. Helen memberikan deskripsi tentang Ingo yang menarik. Aku serasa ingin pergi ke sana, menjelajahi Ingo. Helen tidak hanya bercerita tentang petualangan bertabur fantasi saja melainkan juga mengajak pembaca untuk peduli dengan ekosistem laut, dengan hewan-hewan di dalamnya. Helen turut memperkenalkan sebuah warisan sejarah (pahatan putri duyung Zennor) yang memang ada di daratan Cornwall, Inggris sana. Kisah itulah yang mengilhami tetralogi Ingo ini secara umum, termasuk buku penutupnya yaitu The Crossing of Ingo ini.

Kisah petualangan kakak beradik, Sapphire dan Conor di Ingo kembali berlanjut. Sehabis banjir besar di St. Pirans, keluarga Trewhella kembali ke Senara dimana sudah jelas sangat dekat dengan teluk. Keinginan Sapphire untuk kembali ke Ingo sulit dikekang. Namun kali ini mereka kembali karena undangan yang datang kepada mereka. Ingo mengundang mereka untuk melakukan penyebrangan meskipun hanya kaum Mer (putri/putra duyung) yang biasa melakukannya. Penyebrangan ini penting mengingat kedamaian Ingo akan bermula dari sana. Pun dengan kedamaian antara Ingo dan Udara di hati Sapphire dan sedikit di hati Connor.

“Kadang, ada hal-hal yang jika tidak kaulakukan akan terus menghantuimu seumur hidup, berbisik di telingamu,” kata Granny Carne (hal.51)

Namun ada Ervys, kaum Mer murni yang menghasut banyak kaum Mer lainnya untuk memusuhi dan menyerang serta tentunya menghalangi penyebrangan yang akan kakak beradik tersebut lakukan. Di buku keempat inilah petualangan sebenarnya di lautan mereka alami. Termasuk perang besar dan kehilangan yang harus sekali lagi Saphhire dan Connor rasakan untuk ayahnya. Lalu ada juga proses pemilihan para penyebrang, kisah dengan lumba-lumba, paus bahkan dengan beruang kutub. Penasaran? Silakan baca langsung, ya. Tetralogi ini merupakan salah satu tempat pelarian terbaik dari penat di dunia nyata (versiku, ya, hehe).

Kehidupanmu dapat berubah dalam sekejap mata, seperti pada malam pertengahan musim panas yang tenang dan indah. Kau kehilangan orang yang kaucintai saat kau mengira semuanya aman di sisimu. (hal. 59)

Bisa disimpulkan jika di buku pertama (Ingo), tokoh yang ditonjolkan adalah keluarga Trewhella dan Granny Carne serta manusia duyung (Faro dan Elvira). Berlanjut ke buku kedua (The Tide Knot) Helen memperkenalkan Saldowr--Mer yang bijaksana dan kuat. Pada buku ketiga (The Deep) Hellen memperkenalkan Paus sahabat Sapphire sekaligus sedikit tentang Kraken dan Ervys. Nah, di buku keempat ini, menurutku Evyrs lebih menonjol pun dengan karakteristik kaum Mer secara keseluruhan. Tokoh utama tentu masih sama, namun tokoh pendukung atau pendatang baru di setiap seri yang lebih menonjol dan sepertinya menjadi ciri khas/pembeda dari setiap buku dalam tetralogi ini.

Adapun alur cerita The Crossing of Ingo bergerak maju. Tidak ada kilas balik yang berarti. Legenda tentang putri duyung Zennor hanya dijadikan latar cerita sehingga buku ini tidaklah bergenre historical fiction. Aku pun sudah menduga jika di seri penutup ini akan ada perang besar sebagai titik awal perdamaian. Namun perang yang terjadi tidak sesuai yang kuharapkan. Deskripsinya tidak meyakinkan dan terkesan lambat karena menurutku jika menggambarkan perang harus lebih daripada itu.

Terlepas dari hal tersebut, buku ini memang mengajak kita untuk mencintai dan menjaga lautan. Ada sisipan cerita perih lumba-lumba yang terkena jala lalu tenggelam. Atau cerita Paus yang begitu waspada terhadap manusia. Juga tentang Beruang Kutub dan Anjing Laut yang kelaparan serta es-es di kutub yang mencair. Perubahan lingkungan dan campur tangan manusia yang tidak pada tempatnya telah membuat keberlangsungan hidup mereka terancam. Padahal di satu sisi, Ingo (dan lautan luas) itu sangat indah dan sebenarnya berpengaruh pada kehidupan manusia. Mungkin itulah manfaat kita membaca buku ini, agar kepedulian kita, khususnya terhadap lautan bertambah melalui pendekatan yang berbeda.

Ya, ini adalah karangan Helen Dunmore pertama yang berhasil kuselesaikan. Aku masih berharap bisa membaca karyanya yang lain. Aku penasaran, apakah karyanya selalu berbau lingkungan, hehe. Jika bisa bertemu langsung dengannya, aku mau minta tanda tangan dan berkata jika aku menyukai deskrispinya tentang Ingo. Sebenarnya aku ingin tahu juga darimana dia merangkai kosakata bahasa kaum Mer serta darimana dia dapat menyebut tempat itu Ingo.

Overall, ini masih buku yang menarik bagiku meski ada beberapa hal yang kurang greget atau kurang sesuai dengan harapan. Mungkin terkadang kita hanya perlu menikmati tanpa memasang harapan apapun sebelumnya. Kisah ini aman jika dibaca anak-anak di bawah umur. Adegan perangnya pun tidak terlalu menegangkan, menurutku, sih, hehe. Dan meski ini tentang manusia duyung, tidak ada yang menyerempet ke cinta-cintaan dan seterusnya. Malahan keindahan lautan lah yang lebih ditonjolkan, atau diperkenalkan melalui kisah ini. Sekali lagi, Ingo merupakan tempat pelarian yang oke. Cobalah. :D

Rating: Better (2/3)
Submitted to:

1 komentar: