Senin, 13 Maret 2017

Unwind by Neal Shusterman – Asal muasal praktik pemisahan raga

“Jika lebih banyak orang yang mendonorkan organ, Pemisahan Raga takkan pernah harus dilakukan.” – Sang Laksamana


Judul asli: Unwind
Judul terjemahan: Pemisahan Raga
Pengarang: Neal Shusterman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Agustus, 2013
Tebal buku: 456 halaman
Format: Paperback
Genre: Dystopia, Young-Adult
ISBN: 978-979-22-9802-4

Buku ini kubeli hampir setahun yang lalu. Warna oranye dan kombinasi hitam di covernya tampak menarik. Setelah membaca sinopsis di belakang buku, aku menjadi bergidik. Bau-baunya thriller sadis. Namun akhirnya kuputuskan untuk membawa buku ini pulang.

Dan aku memberanikan diri untuk membacanya meski sempat merasa sayang sekali untuk melepas segel bukunya. Yap, aku selalu suka membeli buku yang segelnya rapi atau paling tidak mendekati rapi dan sebisa mungkin tanpa ada warna kuning di kertasnya. Dan buku Unwind yang kupunya ini, oh, perfect banget segelnya. Namun, yea, apa artinya buku jika tidak dibaca, bukan?

Aku pun selesai membaca Unwind di bulan January lalu. Namun entah mengapa butuh waktu yang lebih lama dari biasanya untuk memulai menulis reviewnya. Sudah dimulai sedikit, malah stuck dan berhenti sejenak. Aku pun melanggar kebiasaanku yaitu membaca buku lainnya setelah selesai mereview buku yang kubaca sebelumnya. Aku merasa begitu stuck sehingga butuh distraction – pengalihan. Untuk mengalihkan sejenak pikiran dari kerumitan ini #halah, aku mulai membaca buku yang lain. Mau tahu buku apa? Klik disini, ya.


Hal pertama yang kucermati dalam Unwind adalah penataan isi cerita di dalamnya. Ada beberapa chapter dan ada sub chapter dimana judulnya sesuai dengan fokus cerita. Misalnya sub chapter-nya berjudul Lev maka fokus ceritanya tentang Lev namun masih memakai sudut pandang orang ketiga. Ini menjadi alternatif yang menarik menurutku selain mengganti POV. Penulis tetap menggunakan sudut pandang orang ketiga namun fokus ceritanya berbeda-beda.

Unwind mengangkat tema dystopia yakni masa depan yang memiliki tatanan dunia baru yang lebih modern namun ganjil, dan menumbulkan rasa tidak nyaman. Dalam buku ini, Pemisahan Raga dijadikan alternatif jalan damai untuk perang Heartland dimana ada dua kelompok yang saling bertentangan. Kelompok pertama menyetujui tindakan aborsi sementara kelompok lainnya mendukung kehidupan. Pemisahan raga ini disahkan melalui undang-undang bernama RUU Kehidupan. Anak-anak yang tidak berguna atau anak-anak gagal dan nakal memiliki kesempatan untuk ‘digugurkan’ atau dikenai status sebagai Unwind.

RUU Kehidupan menyatakan bahwa kehidupan manusia tak boleh disentuh sejak masa pembuahan hingga seorang anak mencapai usia tiga belas tahun.
Namun, antara rentang usia tiga belas dan delapan belas, orangtua boleh memilih secara retroaktif ‘menggugurkan’ seorang anak…
…dengan syarat hidup anak tersebut tidak ‘secara teknis’ berakhir.
(hal. 9)

Connor, Risa dan Lev ditakdirkan untuk bertemu satu sama lain. Mereka bertiga adalah Unwind yang akan menjalani pemisahan raga. Mereka menjadi Unwind karena alasan yang berbeda. Connor memiliki masalah dengan manajemen emosi dan dianggap sebagai ‘produk gagal’. Orangtuanya memutuskan untuk menyetujui pemisahan raga terhadapnya. Sementara Risa adalah anak panti asuhan yang berada dalam tanggungan Negara. Namun dia tidak menunjukkan bakat yang berarti yang mungkin berguna untuk dunia. Panti asuhan tempatnya bernaung mengalami kesulitan finansial sehingga Risa pun didaftarkan sebagai Unwind. Di sisi lain, Lev menjadi Unwind persembahan karena dia lahir dalam keluarga yang menganut kepercayaan tertentu. Keluarganya terhormat, kaya, dan Lev adalah anak yang cemerlang. Namun sejak kelahirannya, dia memang telah ditetapkan sebagai persembahan dan hidup dalam keyakinan tersebut.

Connor dan Risa memang memutuskan untuk melarikan diri, sementara Lev tidak sengaja ikut dengan mereka dan mendapat status sebagai Unwind desertir. Lika liku pelarian yang tidak mudah. Mereka harus bertahan dari Polisi Juvey (polisi khusus yang menangkap unwind desertir) dan ancaman lainnya paling tidak hingga mereka mencapai usia 18 tahun. Dan disitulah keunikan buku ini. Awalnya kukira mereka bertiga akan terus bersama-sama hingga akhir buku untuk memberontak, namun ternyata tidak seperti itu. Lev terpisah dan memiliki jalan hidup sendiri. Buku ini memiliki twist yang cukup mengejutkan.

Memang sekilas buku ini terkesan sadis terkait adanya undang-undang yang melegalkan Pemisahan Raga tubuh anak manusia. Ya, anak-anak pula yang usianya antara 13-18 tahun. Raga mereka dipisah-pisah dan disebar sebagai donor untuk warga lainnya yang membutuhkan transplantasi organ. Kisah ini mengangkat masa dimana segala yang rusak bukannya diperbaiki tetapi diganti dengan yang baru. Meskipun begitu, kesadisannya masih bisa ditoleransi dan tidak berlebihan mengingat pula genre yang diusung adalah Young-Adult. Selain itu, buku ini pun masih jilid pertama. Masih berupa latar belakang mengapa ada kebijakan tentang Pemisahan Raga dan perjuangan awal dari pemberontakan besar-besaran yang mungkin akan terjadi di jilid selanjutnya. Dan aku ingin sekali bisa mengoleksi dan membaca Unwholly (kelanjutan dari seri Unwind). Aku merasa tokoh dan alur ceritanya akan berkembang dan semakin seru untuk dinikmati.

Yup, membaca Unwind tidak memakan waktu yang lama. Buku ini bisa membuat kita terpikat dan enggan untuk berhenti membaca barang sejenak. Menuliskan reviewnya lah yang menurutku begitu memakan waktu. Bagaimana denganmu? By the way, selamat membaca buku. :D

Rating: Better (2/3)

Submitted to:
----------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------

Yap, akhirnya selesai juga kutulis review tentang Unwind karangan Neal Shusterman. Unwind merupakan salah satu buku yang kusukai dan kisah di dalmnya juga menarik. Seperti biasa, aku akan menuliskan quote yang kuanggap menarik yang kutemukan di buku ini. Baiklah, tak perlu panjang lebar, silakan dinikmati quotes berikut, hehe.

Mimpi-mimpi tolol. Bahkan mimpi yang indah pun buruk, karena mengingatkanmu betapa menyedihkannya kenyataan yang ada. (hal. 31)

“Tidak,” ujar Risa, “tapi kalau kita menyiasati situasi ini dan tidak asal bertindak tanpa pikir panjang, kesempatan kita bakal lebih besar.” (hal. 74)

“Sebenarnya,” kata Lev, “menipu ADALAH mencuri.”
“Mungkin begitu,” kata Connor, “tapi ini mencuri dengan penuh gaya.”  (hal. 85)

Bertindak benar semestinya tidak membuatmu malu. (hal. 116)

Risa senang berpikir bahwa dia diberi nama oleh manusia bukannya computer. (hal. 164)

“Itu benar—tapi kau menolongku. Sekarang giliranku melakukan hal yang sama untukmu. Dan aku akan membawamu ke Joplin.” (hal. 194)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar