Senin, 13 Maret 2017

The Manny by Holly Peterson – Berkenalan dengan pengasuh laki-laki

“Baik sekali kau bilang aku pintar, Christina, tapi orang pintar tidak lantas mengetahui semuanya.” – Jamie Whitfield

 
Judul: The Manny
Pengarang: Holly Peterson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni, 2011
Tebal buku: 576 halaman
Format: Paperback
Genre: Romance
ISBN: 978-979-22-7171-3

Entah mengapa sejak awal februari (atau malah awal tahun, ya) aku mendadak suka melihat warna kuning. Rasanya begitu segar, mencolok, dan ceria. Mungkin karena itu aku mengambil Sekali Lagi si Paling Badung sebagai bacaan di bulan Januari lalu. Dan di bulan Februari, aku memutuskan membaca The Manny meskipun setelah mengintip Goodreads ada banyak review negative tentangnya, haha.

The Manny sendiri termasuk salah satu buku yang kubawa pulang dari tumpukan buku diskon di pelataran Gramedia. Buku ini tersebar di beberapa tumpukan dan saat itu masih ada banyak. Aku jadi greget sendiri melihatnya ada dimana-mana. Jadi, kayak buku ini seolah-olah bilang: ambil aku, ambil aku. Haha, jadi merasa kena terror. Namun, selain itu, judulnya juga menarik perhatianku. Aku sempat bingung, apa, ya, maksud dari judulnya? Dan blurb di belakang buku cukup menjelaskan arti kata tersebut. Warna kuning kombinasi putih di kover The Manny juga tampak manis. Belum lagi buku ini lumayan tebal, berasa tidak rugi membelinya, #halah.

The Manny bercerita tentang Jamie Whitfield, ibu sekaligus produser berita dengan 3 orang anak. Suaminya bernama Phillip Whitfield adalah pengacara dan sering digambarkan sebagai anak manja jika berada di rumah. Mereka kaya dan tinggal di lingkungan elit New York. Kesibukan dengan karir akhirnya membuat mereka mengalami kesulitan mengurus anak tertuanya, Dylan yang terutama membutuhkan figure seorang ayah.

Jamie pun memiliki ide untuk menyewa seorang Manny (pengasuh laki-laki) bernama Peter Bailey untuk Dylan. And, yea, ini romance dan begitulah kisahnya berakhir. Ada apa dengan Peter dan Jamie kemudian? Silakan cek langsung buku ini, oke? Atau…bisalah itu ditebak, hehe.

Yap, sepertinya aku setuju dengan beberapa rating di Goodreads untuk buku ini. Memang harus cukup sabar membaca The Manny. Pada bagian awal hingga ada beberapa bagian lainnya terasa sulit untuk diikuti. Maksudnya, cara bercerita Holy Peterson seperti melompat-lompat. Kata-kata yang digunakan juga membingungkan. Banyak pengandaian yang butuh penyesuaian untuk dipahami. Ada banyak tokoh di dalamnya dan jika cukup sabar baru mulai bisa mengikuti alur yang dimiliki oleh buku ini.

Belum lagi dengan ide cerita yang umm terlalu fiksi, membuat aku merasa meh. Seorang pekerja part time mempunyai gaji hingga 100.000 dollar sebulan dan tetap tidak bisa membagi waktunya untuk anak-anak. Ditambah lagi, disepanjang buku ini, Jamie hanya mengurusi satu berita yang seolah-olah sudah membuatnya sibuk luar biasa, hemm. Lalu cerita tentang suaminya yang digambarkan hampir 90% jelek. Benar-benar deskripsi yang menggiring pembaca untuk tidak menyukai Phillip.

Pernah kubaca, entah disitus apa jika ide cerita romance kebanyakan bertipe (kalau tidak salah): Cinderella, Romeo dan Juliet, atau Beauty and the Beast. Kisah Jamie dan Peter sepertinya menggunakan konsep Cinderella. Alih-alih Upik Abu, Jamie seolah begitu kesulitan dan terbebani mengurus ketiga orang anaknya, mengurus suaminya yang manja, dan urusan rumah tangga lainnya termasuk karir sebagai seorang produser berita. Kemudian dia bertemu Prince Charming (ada proses seleksinya juga, sih) dan pangeran Peter inilah yang membantunya. Hanya saja Cinderella di sini bukan tokoh favorit pembaca (setidaknya aku). Cinderella-nya suka mengeluh. Tidak suka hidup a la sosialita namun mencoba menjadi seperti mereka juga pada akhirnya.

Overall, sebenarnya ide kisahnya menarik. Mungkin memang eksekusinya yang kurang bagus. Aku memang tidak berharap banyak dengan buku ini sejak awal membacanya. Namun bagi kalian yang menginginkan bacaan yang lebih baik, silakan letakkan buku ini diantrian terakhir daripada waktu kalian terbuang, haha.

Meski demikian, ada beberapa quote yang terkumpul dari buku ini. Terlepas dari keseluruhan isi buku yang seperti itu, mungkin quotes ini bisa jadi penghiburan bagi yang sudah membaca The Manny dan setuju jika buku ini masih perlu perbaikan. Dan jumlahnya pun kurang dari sepuluh. Seperti biasa kutampilkan bersama reviewnya sekaligus sebagai penutup postingan review ini. Selamat menikmati. Selamat membaca buku. :D


Rating: Good (1/3)

Submitted to:
----------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------

“Bagaimana kau berharap bisa tiba di tempat yang kautuju jika kau terus-menerus memperhatikan orang-orang di sepanjang jalan? Jangan fokus pada apa yang keliru kautafsirkan sebagai kekuranganmu.” (hal. 64)

Untuk segala kemajuan yang dicapai para wanita, begitu banyak dari kami yang merindukan figure suami yang bisa mengambil kendali dalam situasi mengerikan, yang kuat saat menghadapi kesengsaraan, dan menjadi batu karang sebagai tempat bersandar. (hal. 257)

“Baik sekali kau bilang aku pintar, Christina, tapi orang pintar tidak lantas mengetahui semuanya.” (hal. 261)

Lakukanlah persis seperti apa yang kaubutuhkan dalam hidup untuk membuatmu bahagia. Jangan pernah mengira ini semua mudah bagi kita semua. Bersikaplah bijak pada dirimu sendiri dan apapun yang kauinginkan dalam hidup ini.” (hal. 532)
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar