Selasa, 10 Januari 2017

Miss Marple’s Final Cases by Agatha Christie – Bukan hanya satu, tapi delapan kisah

“Sungguh gila rasanya, kalau semua yang baru saja terjadi sudah kita lupakan.” – Alicia Coombe


Judul asli: Miss Marple's Final Cases
Judul terjemahan: Kasus-kasus Terakhir Miss Marple
Pengarang: Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kelima, Januari, 2014
Tebal buku: 172 halaman
Format: Paperback
Genre: Classic; Mystery
ISBN: 978-979-22-3259-2

Kembali aku menulis review dengan sebab untuk memperbaiki ritme membaca hingga untuk kembali berlatih menulis. Betapa hidup memang penuh kejutan. Tidak terlintas bahwa 2016 yang sudah berlalu akan menjadi tahun penuh warna warni. Rasanya seperti baru kemarin memasang target membaca, ikutan reading challenge, dsb. Pun tidak terlintas bahwa akan ada lebih banyak buku yang kubeli daripada yang kubaca. Dan sama tidak terlintasnya kalau aku bisa dapat buntelan buku Agatha Christie dengan harga yang begitu miring, hehe.

Satu buntelan ini berisi 10 buku. Tidak hanya seri Poirot, ada pula seri Miss Marple di dalamnya. Dan aku memilih untuk membaca buku ini setelah sempat bingung ingin duluan membaca judul yang mana. Selain karena tebalnya yang hanya 172 halaman, aku memilih buku ini juga karena aku kangen dengan Miss Marple. Terakhir membaca serinya yang berjudul Sleeping Murder dan itu kira-kira setahun yang lalu (September, 2015).

Tidak seperti karya Agatha yang sebelumnya kubaca, buku yang ini sedikit berbeda. Kontennya masih seputar kisah misteri pembunuhan dan sebangsanya, namun kali ini tidak hanya mengangkat satu kisah. Buku ini berisi 8 kisah pendek yang tentunya menarik meskipun tidak dengan penampilan bukunya. Maksudku, pada cetakan seri ini menggunakan kertas buram dan ada beberapa halaman yang ketikannya terlihat membayang. Bahkan ada typo pada paragraph pertama, di awal buku. Terlepas dari penampilannya, aku tetap bersemangat membaca kisah di dalamnya.

Seperti yang kusebutkan sebelumnya, buku ini berisi 8 kisah pendek. Bisa kukatakan bahwa 6 kisah awal masih ada menyebut nama Miss Marple. Namun 2 kisah terakhir tampak berupa kisah lepas. Tidak ada Miss Marple di dalamnya. Kisahnya pun agak berbau supranatural. Aku juga tidak mengerti, mengapa kedua kisah tersebut termasuk ke dalam seri Miss Marple ini. Terlebih salah satu dari 2 kisah tersebut dipakai sebagai ilustrasi untuk cover bukunya. Bahkan pada blurb di bagian belakang buku menyebutkan bahwa ke-8 kisah di dalam buku ini memiliki satu kesamaan yaitu dipecahkan dengan brilian oleh Miss Marple. Hmm, jadi semakin bingung. Entahlah jika ada tokoh-tokoh di dalamnya yang pernah muncul di seri Miss Marple lainnya. Atau ada bagian dari kisah tersebut yang disingkat sehingga nama Miss Marple tidak muncul. Haha, aku memang masih kurang referensi dan tidak mau repot mencari. Apakah ada pembaca review ini yang tahu sebabnya? :)

Baiklah, kita lanjutkan saja. Bicara tentang kisah-kisah di dalam buku ini, ada 3 kisah yang paling kusukai. Kisah pertama yang kusuka berjudul Pembunuhan dengan Pita Pengukur. Tidak seperti kisah lainnya dalam karya Agatha yang sudah pernah kubaca sebelumnya, kisah ini sedikit berbeda. Sudah tergambar dengan mudah siapa yang melakukan pembunuhan tersebut. Pun dengan caranya yang bisa dikira-kira dengan mudah. Namun yang terasa unik bagiku dan kusuka adalah motif dibaliknya. Mengapa dia melakukan pembunuhan tersebut cukup tidak terduga. Ya, memang jika ingin ditarik benang merah dari semua kisah di buku ini, sebagian besar motifnya berkisar antara harta dan kejahatan masa lalu.

Kisah kedua yang kusuka berjudul Kasus Pelayan yang Sempurna. Kisah ini bercerita tentang seorang pelayan yang tampak begitu sempurna di sebuah umm katakanlah rumah susun yang penghuninya tidak saling peduli satu sama lain namun menyimpan hartanya masing-masing. Pelayan tersebut datang setelah salah satu penghuni tempat tersebut memecat pelayan lamanya dengan tuduhan sebagai pencuri. Tidak ada pembunuhan di sini namun yang menarik adalah pencurian yang terjadi selanjutnya dan bagaimana si pelaku melakukannya.

Kisah lainnya yang juga menarik bagiku berjudul Boneka Sang Penjahit. Kisah yang juga menjadi ide ilustrasi cover buku ini sama sekali tidak menyebutkan nama Miss Marple di dalamnya (atau aku yang melewatkan sesuatu?). Di kisah ini tidak pula ada pembunuhan atau pencurian. Kisahnya pun sedikit absurd dengan menyertakan sebuah boneka yang mampu berpindah tempat. Aku jadi membayangkan, apakah kisah ini merupakan wujud keluhan dari Agatha ketika di usia tuanya. Haha, cuma perkiraan saja karena aku tidak tahu persis berapa usia Agatha saat menuliskan kisah ini dan apa yang menjadi inspirasinya. Intinya dari kisah ini bisa belajar beberapa hal tentang perilaku manusia, tentang keinginan serta tentang prasangka. Ada rasa menusuk yang tentunya berbeda dari rasa lega yang seperti biasa dirasakan jika telah selesai membaca kisah-kisah pembunuhan yang Agatha tulis.

Well, ya, itulah 3 kisah yang kusukai. Dan ada 5 kisah lainnya yang mungkin akan kalian suka antara lain Perlindungan (cerita tentang seorang pria tak dikenal yang muncul di gereja dengan luka tembak di tubuhnya); Lelucon yang Aneh (teka-teki harta karun peninggalan seorang lelaki tua eksentrik); Kasus si Penjaga Rumah (kelakuan aneh seorang penunggu rumah setelah kecelakaan berkuda yang mencurigakan); Miss Marple Bercerita (pembunuhan istri seorang penulis di sebuah kamar hotel); Teka-teki Pantulan Cermin (misteri cermin yang memantulkan bayangan seorang wanita yang ditikam suaminya).

Terlepas dari 8 kisah tersebut, masih ada 8 kisah lainnya di masing-masing buku karya Agatha di buntelan yang kubeli itu. Masih ada 8 kisah yang tertinggal karena satu kisah diantaranya berjudul Hallowe'en Party yang dulu sudah pernah kukoleksi, kubaca dan juga ku-review. Mungkin sebaiknya segera kucari tahu, ada berapa sebenarnya kisah detektif yang Agatha tulis dan sudah dibukukan. Ingin tahu karena penasaran saja. Agatha begitu produktif dan karyanya begitu legendaris. Well, bagaimana dengan kamu? Apa saja buku Agatha yang sudah kamu baca? Cerita donk! :D

Rating: Better (2/3)
---------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------

Seperti biasa, aku suka mengutip kalimat-kalimat (yang menurutku) menarik dari buku yang telah selesai kubaca dan kureview. Terkadang aku menemukan begitu banyak kalimat menarik, namun ada kalanya tidak. Aku membuat peraturan sendiri yaitu jika kalimat yang kutemukan itu kurang dari 10, maka tidak akan kutulis dan ku-posting terpisah dengan reviewnya. Dan karena kali ini yang kutemukan hanya 8 kalimat menarik, jadi kugabung saja dengan postingan reviewnya. Ayo, kita baca bersama, berikut kalimat-kalimat menariknya. :D

“Pasti dia masih ingat,” kata Bunch. “semua orang ingat pada Bibi. Sebab Bibi lain dari yang lain, sih.” Ia bangkit. (hal. 26)

“…. Tapi sesuatu memang selalu mengingatkan kita pada soal yang lain. Dan kadang-kadang itu ada gunanya. ….” (hal. 44)

“…. Di dalam dunia yang jahat ini, kesimpulan-kesimpulan yang tak mengenal belas kasihan sering dibenarkan.” (hal. 67)

“…. Dia punya pendirian bahwa ‘Jangan pernah perlihatkan perasaanmu’. ….” (hal. 72)

“Ah, saya rasa Anda pun tahu, Kolonel Malchett. Saya dengar, suatu kejahatan mungkin terjadi sehubungan dengan kejahatan masa lalu. ….” (hal. 75)

Pikiran Louise terbatas dan agak menyedihkan. Orang-orang kaya memang kadang tak bisa melihat kenyataan. (hal. 85)

Ia ingin bertanya, tapi apa yang ingin ditanyakannya tidak muncul ke dalam pikirannya. (hal. 133)

“Sungguh gila rasanya, kalau semua yang baru saja terjadi sudah kita lupakan.” (hal. 138)

1 komentar: