Rabu, 03 Agustus 2016

Mary Poppins by P. L. Travers – Dongeng klasik penuh hal ajaib

“Kau akan mendengarnya, tapi kau tidak akan mengerti.” – Mary Poppins

gambar diambil dari sini

Judul: Mary Poppins
Penulis: P. L. Travers
Penerbit: Qanita
Terbit: Agustus, 2012 (Cetakan pertama)
Tebal buku: 228 halaman
Format: Paperback
Genre: Fantasy; Young Adult
ISBN: 978-602-9225-53-2

Aku merasa gugup untuk mulai menulis review kali ini. Sudah hampir tiga bulan aku absen menulis untuk mengisi deretan blog yang pernah kubuat termasuk Bukulova. Semua karena aku tengah beradaptasi dan belajar membagi waktu antara kesibukan di tempat kerjaku yang baru dan kesibukan melakukan apa yang kusukai. Ya, kembali lagi, aku merasa gugup karena berpikir apakah aku bisa menyelesaikan tulisan ini dan apakah hasilnya sesuai dengan yang kuharapkan. Benar, bukan ide yang bagus untuk berpikir seperti itu. Mungkin lebih baik aku mencoba saja dan kita lihat bagaimana tulisan ini mengalir dan berhenti, hehe.

Sudah cukup lama aku menamatkan Mary Poppins. Aku tidak mengambil buku ini dan membawa ke kasir saat pertama kali melihatnya. Barulah ketika (tidak sengaja) membaca review-nya di sebuah blog, keinginanku untuk membeli dan membaca buku ini muncul. Aku tahu ini adalah seri klasik dan berbau fantasi. Namun bukan genre atau jalan ceritanya yang meragukanku disaat pertama melihatnya. Bukan pula nama penulisnya yang baru kukenal. Namun covernya-lah yang agak menahan langkahku saat itu.

Warna covernya memang cerah, paduan merah dan biru langit. Ada seorang gadis yang tersenyum ramah dengan payung yang terkembang. Gadis itu dan segala yang di-cover tersebut (kecuali langitnya) tampak seperti sebuah foto bukan digambar atau dilukis. Entahlah, ini memang masalah selera, kurasa. Aku kurang menyukai covernya. Rasanya aneh melihat foto tersebut di-cover buku fantasy. Kesan yang kutangkap lebih seperti majalah ketimbang buku. Oleh karenanya, aku abai membawa pulang buku ini pada kali pertama berjumpa, #halah.

Terlepas dari covernya, Mary Poppins sendiri adalah sebuah tokoh yang diciptakan oleh P. L. Travers. Ada delapan buku Mary Poppins dan sepertinya inilah seri pertamanya. Mary datang bersama angin yang berhembus dan dia akan pergi seiring perubahan arah angin. Mary datang ke keluarga Banks yang saat itu tengah mengalami kesulitan mengurus anak-anak mereka. Katie Nanna, pengasuh sebelumnya telah berhenti dan Mrs. Banks sibuk meminta suaminya mencari pengasuh baru. Mary Poppins muncul dan mereka menerimanya sebagai pengasuh baru. Sepanjang buku ini bercerita tentang Mary yang mengajak Jane dan Michael menikmati beragam petualangan yang berbeda dan penuh keajaiban serta tentunya fantasi.

Sulit untuk jatuh cinta pada paruh awal buku. Entah karena faktor apa, aku malah tidak menyukai Mary yang terkesan angkuh dan tidak begitu ramah terhadap siapapun terutama anak-anak Mr. Banks. Ditambah dengan isi cerita yang penuh keanehan. Namun aku terus bersabar membaca hingga tuntas alih-alih meletakkan kembali buku ini ke tumpukan. Lambat laun aku bisa mengikuti ritme cerita dan terbiasa dengan sikapnya. Buku ini penuh imajinasi dan tidak ada yang normal. Ada binatang yang bisa berbicara, ada lukisan yang bisa dimasuki, ada gas tertawa, ada sapi yang melompati bulan, dst.

Rasanya kesalahanku yang pertama adalah dengan menganggap bahwa fantasi di buku ini masih bisa kucerna dengan mudah, alur cerita berkembang ke masalah tertentu dan bukan jejeran cerita kemana Mary Poppins pergi lalu keajaiban apa yang tercipta. Buku ini begitu liar, menyentil banyak hal meski yang kubaca ini adalah versi terjemahannya. Ada banyak pesan yang disampaikan secara implisit jika kita (pembaca) mau merenungkannya. Namun sulit untuk memberikan contoh konkretnya atau kutipan apa yang tepat. Silakan dirasakan langsung, deh. Haha, sekalian “ngeles” karena jarak antara aku membaca dan mereview sudah terlalu jauh, jadi sulit juga untuk me-recall-nya.

Hal lainnya yang bisa kucermati, beberapa kisah di buku ini mengingatkanku dengan beberapa dongeng klasik. Seperti pada kisah ketiga tentang gas tertawa. Mary Poppins mengajak Jane dan Michael mengunjungi pamannya. Paman Albert adalah seorang yang periang dan suka tertawa. Jika dia tertawa maka tubuhnya menjadi ringan dan melayang. Peter Pan? Ya, aku teringat akan dongeng ini. Rasa bahagia bisa membuatmu terbang. :D

Selain itu, ada juga kisah kelima tentang Sapi Menari. Dikisahkan si Sapi mulai menari di suatu malam dan dia tidak bisa berhenti. Sapi tersebut akhirnya meminta tolong kepada Raja di istananya. Ada yang tahu ini membuatku ingat dengan dongeng apa? Yap, dongeng Sepatu Merah. Haha, dan ya, aku tambahkan, sapi yang tidak bisa berhenti menari ini bernama Sapi Merah, woohoo! :D

Dari 12 bab atau 12 cerita yang disajikan secara runut, ada dua kisah yang paling kusukai yaitu kisah kesembilan (Kisah John dan Barbara) dan kisah kesepuluh (Bulan Purnama). Di dalamnya ada ide yang membuatku tergelitik. Ide yang tidak biasa, di luar kebiasaan dan penuh fantasi. Ini tentang bahasa universal dan raja hutan. Silakan baca langsung, ya. :)

Okelah, sebaiknya kusudahi review kali ini. Haha, masih terasa kagok setelah lama tidak menulis. Overall, ini buku fantasy klasik yang bagus. Hanya memang harus sabar di bagian awal (setidaknya itu terjadi kepadaku) karena akan terasa membingungkan dan acak. Entahlah apa penyebabnya. Namun semakin dibaca, akan ada kesan yang tertinggal, menggelitik pikiran. Dan karena quote manis yang kutemukan tidak banyak, aku akan menuliskannya di postingan ini juga. Anyway, selamat membaca buku! :D

Rating: Better (2/3)

Submitted to:
--------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------

Yup, akhirnya berhasil menamatkan dan lebih berhasil lagi menuliskan reviewnya, yaiy! Sudah lama rasanya absen menulis blog (sekitar 3 bulanan) dan rasanya tidak enak absen seperti ini. Mudah-mudahan review ini juga bisa mengawali aktifnya kembali aku di dunia blogging #halah.

Oke, intinya di sini aku akn menuliskan quote manis yang berhasil kukutip dari buku Mary Poppins ini. Tidak banyak yang kutemukan, oleh karenanya kugabung saja dengan postingan reviewnya ini. Dan, yuk, kita langsung baca sama-sama. :D

Namun, tak seorang pun tahu apa yang dirasakan Mary Poppins, karena Mary Poppins tidak pernah mengatakan apa-apa kepada orang-orang... (hal. 28)

“Aduh, aku cukup muda jika dibandingkan dengan Nenekku. Baiklah, kalau kau memang lebih suka menyebutku wanita tua. Tapi, aku bisa mengingat masa lalu dengan baik. Aku ingat saat mereka membuat dunia ini---saat itu aku masih remaja. Astaga, kuberi tahu kau, itu adalah pekerjaan yang luar biasa!” (hal. 137)

“Kau akan mendengarnya,” kata Mary Poppins, “tapi kau tidak akan mengerti.” (hal.158)

“Tidak ada gunanya bertanya. Ia tahu segalanya, tapi tidak akan pernah mengatakannya,” kata Jane. (hal. 169)

“mungkin antara makan dan dimakan adalah hal yang sama pada akhirnya...” (hal. 191)

“Permasalahkan masalah dan itu akan membuatmu kena masalah!” (hal. 216)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar