Senin, 22 Februari 2016

The Dark Blood by Ashara – Kisah Makhluk Penghisap Darah, namun bukan Vampire


“Tak ada artinya memiliki jika dia tidak bahagia.” – Evey


Judul: The Dark Blood
Pengarang: Ashara
Penerbit: Immortal Publisher
Terbit: Januari, 2013
Tebal buku: 324 halaman
Format: Paperback
Genre: Fantasy; Romance
ISBN: 978-602-7760-17-2

Aku tidak bisa mengingat mengapa membawa buku ini ke kasir. Dugaanku sepertinya karena covernya yang berwarna hijau toska yang manis, meski aku tidak terlalu menyukai ilustrasinya. Dugaan lainnya adalah karena sedikit kalimat di cover bagian depan yang dengan jelas menyatakan bahwa ini cerita fantasy mengenai makhluk penghisap darah. Oke, ini menarik! Meski berbau fantasy dan kukira semacam novel petualangan dan sesuatu yang kompleks lainnya, sinopsis di sampul belakang novel ini membuatku ragu. Ceritanya memang fantasy namun juga condong ke romance. Aku jadi harap-harap cemas, aku tidak terlalu suka teenlit yang romance-nya cheesy atau ya, gitulah, jadi susah menjelaskannya, haha.

Tidak butuh waktu lama untuk membaca buku ini. Font dan spasi yang digunakan tidak membuat mataku protes. Juga kertas dan penampilan novel yang jauh lebih baik dari buku yang sebelumnya ku review (klik di sini, jika mau tahu). Ya, meskipun kedua penerbit ini asing bagiku dan ini kali pertama aku membaca terbitan mereka, namun membaca buku Immortal Publisher ini terasa lebih menyenangkan. Aku tidak bermaksud membandingkan atau berlebihan, aku cukup terhanyut dengan alur cerita yang ditawarkan Ashara (penulis novel ini). Mungkin karena itulah novel setebal 324 halaman ini bisa kutamatkan dalam waktu sehari saja.

Kisah dibuka dengan seorang bernama Khazayn yang sedang bad mood di sebuah klub malam. Dia ditemani oleh Evey yang mencoba membuatnya sabar dan bertahan di klub tersebut selama dua jam.  Dan Khazayn harus mematuhi perkataan Evey agar dia bisa sembuh dari sakaw darahnya.

Apa itu sakaw darah? Baiklah, langsung saja, mereka berdua ini bukan manusia biasa melainkan Bloodaine. Mereka datang dari dimensi berbeda yang disebut Bloodarchane. Mereka makhluk yang mempunyai dua naluri khas: suka bertarung dan penghisap darah manusia. Mereka membutuhkan darah manusia agar tetap kuat meski Evey ternyata Bloodaine vegetarian. Dia hidup hanya dari menyerap cahaya matahari. Ya, mereka tidak sama dengan vampire, makhluk mitos yang biasa kita kenal, yang biasa takut dengan cahaya matahari.

Keterikatan Khazayn dan Evey berawal dari Nergha (kakak Khazayn) yang tidak tenang melihat adiknya sakaw darah. Gejalanya mirip dengan orang yang sakaw karena narkoba semacam menggigil, badan panas dingin, dan mempunyai keinginan kuat untuk mengkonsumsi barang yang dicandunya tersebut. Umumnya Bloodaine hanya masuk ke dunia manusia seminggu sekali untuk minum darah. Di beberapa kasus, ada yang sebulan sekali. Namun Khazayn dan Evey adalah Anomali, mereka tidak sama dengan Bloodaine lainnya. Khazayn malah setiap hari meminum darah manusia. Ini juga bertentangan dengan keputusan Dewan di Bloodarchane. Akhirnya Nergha meminta Evey yang sama sekali tidak pernah minum darah (hidup hanya dari cahaya matahari) untuk mengajari Khazayn mengendalikan haus darahnya tersebut. Lalu bisakah seorang anomali menjadi normal?

Namun hal tersebut bukanlah yang menjadi konflik di buku ini. Seiring cerita berlanjut, kita akan mengetahui bahwa konflik sebenarnya adalah tentang perburuan Sasha Red dan pengkhianatan serta adu domba di kalangan bangsa Bloodaine sendiri. Siapakah itu Sasha Red? Sedikit bocoran, Sasha adalah Nightrace, makhluk setengah manusia dan setengah Bloodaine. Di masa lalunya yang kelam, Sasha (dulunya Sasha Spencer) telah meminum darah salah seorang Bloodaine yang mempunyai bakat khusus dan akhirnya dia mampu mengubah dirinya menjadi makhluk yang sama sekali berbeda, yaitu Sasha Red. Masa lalunya itu pula yang membuatnya menjadi separuh psikopat dan dingin. Dia sangat membenci Bloodaine dan bahkan telah mulai melakukan pembantaian terhadap mereka.

Oh ya, aku belum cerita kalau ada beberapa Bloodaine yang memilki bakat khusus. Contohnya seperti Khazayn dan Nergha yang pandai dalam bertarung dan mempunyai kekuatan memprediksi gerakan lawan. Contoh lainnya Evey, yang akhirnya mengetahui jika dia memiliki kekuatan penyembuh. Begitu pula dengan kekuatan yang Sasha punyai yaitu mampu melesat dengan cepat. Dia mendapatkannya dari Bloodaine yang dia minum darahnya sewaktu dulu. Kekuatan ini dan beberapa kemampuan lain semisal telepati dan mengubah wujud disebut sebagai “sihir” di kalangan Bloodaine. Dan darah manusia mampu membuat sihir mereka menjadi lebih kuat. 
 
Aku tidak menaruh ekpetasi apapun ketika mulai membaca novel ini. Namun kenyataannya aku larut dalam alur ceritanya. Apalagi di bagian tengah buku, alurnya makin menjebak dan membuatku menebak-nebak siapa pengkhianat sesungguhnya. Sepertinya penulis cukup detail merangkai plot cerita. Kisah di dalamnya (meski mengandung romance) tidaklah cheesy, malah aku merasakan kedewasaan dan rasionalitas. Pun aku suka dengan nada sarkastik yang bertebaran di kalimat-kalimat yang mengiringi kisah The Dark Blood ini. Meski begitu nama tokohnya sempat membuatku merasa meh. Namanya aneh-aneh. Ya, mungkin itulah hasil fantasi penulisnya. Aku awalnya kira Khazayn itu cewek, lho. Eh rupanya cowok, haha. Oke, mungkin aku lupa kegantengan Zayn Malik karena bukan fans One Direction. :D

Buku ini ditulis dalam dua sudut pandang yang saling bergantian. Pertama memakai POV Khazayn, lalu berikutnya POV Evey. Jujur, aku kurang menyukainya. Aku merasa penulisnya agak keteteran terutama pada karakter Khazayn. Mungkin karena itu juga di awal aku menganggap dia itu cewek bukan cowok. Aku rasa lebih baik jika memakai sudut pandang orang ketiga alias narrator yang tahu segalanya. Selain membuat cerita ini makin kuat, membaca dalam nuansa romance antara Khazayn dan Sasha jadi menyenangkan. Pun meski menyukai alur dan ketelitian penulisan yang menjaga agar tidak ada logika yang patah, namun aku masih berharap ceritanya lebih mulus dan tidak terlalu terburu-buru, haha.

Hal lain yang tidak memuaskanku adalah setting tempat yang dipaparkan penulis. Bukan, bukan setting di Bloodarchane (aku menyukai setting ini) melainkan setting di dunia manusia. Diceritakan mereka memasuki dunia manusia di benua Amerika. Namun, ya, itu, setting Amerika-nya kurang terasa. Entah negara bagian mana yang sebagian besar menjadi setting-nya. Ini mungkin perlu digali lagi oleh si penulis. Begitu pula dengan tempo bercerita yang cukup cepat (seperti saat Sasha yang dengan mudah bercerita tentang masa lalunya kepada Khazayn, padahal mereka baru saja kenal).

Aku pikir, jika menggunakan sudut pandang orang ketiga maka alurnya akan bergulir dengan lebih tenang. Pembaca pun lebih bisa menyerap kisah ini. Haha, iya, aku cuma bisa berkomentar dan memang belum pernah menulis buku sebelumnya. Namun kupikir ini bukan ide yang buruk untuk dicoba. Aku merasa sayang dengan ide cerita yang bagus berikut pilihan kata serta alur yang lumayan teliti. Nuansa fantasi yang ditawarkan juga terasa hidup. Apalagi ini bukan buku terjemahan, lho. Ini asli karangan anak bangsa, #eaakk. Aku mau, kok, membaca buku fantasinya yang lain. Ini buku yang menyenangkan meski temanya agak gelap dan sadis, haha.

Rating: Better

Submitted to:
----------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------

Yup, buku ini telah berhasil kuselesaikan. Kisah di dalamnya menarik dan alur ceritanya cukup kuat. Ini buku yang lumayan bagus dan bukan pula terjemahan. Aku cukup heran mengapa aku tidak bisa menemukannya di Goodreads. Padahal aku telah mengetikkan nomer ISBN-nya. Hmm, baiklah, kita skip dulu. Seperti biasa berikut akan kukutip beberapa quotes menarik yang bisa kutemukan di kisah ini. Selamat menikmati, hehe. :D

Barang siapa yang berada dalam bayang-bayang kematian biasanya punya kecendrungan untuk menjadi sosok yang jujur. (hal. 59)

Seperti yang selalu kukatakan, terjadilah apa yang memang seharusnya terjadi. (hal. 150)

Jika tak ada yang bisa dilakukan untuk mengenyahkan penderitaanmu, beristirahat darinya selama beberapa saat akan menjadi berkah tersendiri. (hal. 151)

“Kenapa orang selalu lebih mudah percaya pada kabar buruk daripada kabar baik?” (hal. 232)

“…. Kadang-kadang, gertakan dan ancaman memang perlu. Keduanya menghasilkan kepatuhan yang kerap kali lebih mutlak daripada bujukan. ….” (hal. 240)

“Gagak memang hitam. Namun bukan  berarti gagak makhluk yang jahat.” (hal. 267)

“…. Aku akan mencintaimu untuk melepaskanmu.” (hal. 270)

“Tak ada artinya memiliki jika dia tidak bahagia.” (hal. 279)

Namun sama seperti sebelum-sebelumnya, apa pun yang terlalu sempurna untuk menjadi nyata bukanlah kenyataan. Jika memang kenyataan, maka kesempurnaan itu tak akan berlangsung lama. (hal. 316)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar