Senin, 22 Februari 2016

Seraphina by Rachel Hartman – Cerita tentang Naga dengan pendekatan yang berbeda

Apa pun yang terjadi, sudah terjadi. Aku telah berdamai dengan masa lalu dan dengan masa depan. Lakukanlah apa yang menurutmu harus kau lakukan, dan jangan takut. - Papa

Sumber

Judul: Seraphina
Seri: Seraphina #1
Pengarang: Rachel Hartman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Mei, 2013
Tebal buku: 544 halaman
Format: Paperback
Genre: Fantasy, Young Adult
ISBN: 978-979-22-9621-1 

Warna cokelat muda atau krem kekuningan mendominasi cover buku ini mengingatkanku dengan cover novel (yang juga terbitan Gramedia) berjudul A Tree Grows in Brooklyn karya Betty Smith. Hanya sebatas nuansa warna bukan ilustrasinya. Bicara soal ilustrasi covernya, ada siluet gambar kerajaan lalu dua buah naga terbang. Ez sempat tertarik melihat lebih rinci naga di cover Seraphina ini dan dia bilang ini terlihat seperti Wyvern, jenis naga di dataran Eropa sana. Well, entahlah, mungkin saja karena aku tidak terlalu paham bedanya, haha.

Namun satu hal yang membuatku menarik buku ini dari tumpukan di toko buku adalah judulnya: Seraphina. Seolah ada sesuatu di otakku yang mengaitkannya dengan dongeng si peniup seruling. Ya, kebetulan pula di sinopsis yang kubaca di sampul belakang buku ini, Seraphina mahir memainkan seruling. Dongeng yang kumaksudkan itu adalah dongeng yang bercerita tentang seorang anak memainkan seruling lalu di belakangnya ada tikus-tikus mengikutinya seolah terhipnotis. Haha, aku lupa judul dan kisah pastinya. Aku juga lagi males, nih, untuk ngubek-ngubek Google mencari dongeng yang kusebutkan itu. Tapi, begitulah kira-kira awal perjumpaan aku dengan buku ini, haha. #iniapasih

Novel setebal 544 halaman ini berhasil kutamatkan selama dua hari. Kebetulan hari itu aku lagi tidak banyak kegiatan dan weekend. Jika dibilang karena kisahnya mudah dicerna dan kita mudah larut di dalam ceritanya, hmm, mungkin tidak juga. Memang ini kisah fantasi yang menyenangkan dan ide ceritanya menarik. Jika dibandingkan dengan The Silmarillion, Seraphina ini jauh lebih sederhana, pun tokoh-tokoh di dalamnya tidak banyak. Hanya saja beberapa kali keningku berkerut, kebingungan mengenai POV-nya. Ini bagian siapa yang bicara? Atau, ini maksudnya apa. Butuh sedikit usaha untuk beradaptasi dengan kisahnya. Apalagi setting-nya “tempoe doeloe” gitu. Zaman kerajaan dan masih menggunakan penerangan lilin dan naik kuda atau kereta kuda. Namun secara keseluruhan, aku cukup menyukai kisahnya.

Seraphina Dombegh sudah jelas merupakan tokoh utama dari kisah ini. Dia terlihat seperti gadis biasa, namun sebenarnya tidak. Dia sangat berbakat dan bekerja sebagai asisten Viridius, penanggung jawab musik di istana Goredd. Perlu diketahui bahwa Seraphina hidup di masa ketika naga dan manusia hidup berdampingan. Konsep naga di sini jauh berbeda dengan naga di kisah lainnya (setidaknya dari beberapa kisah yang pernah kubaca, hehe).

Sudah 40 tahun berlalu sejak Naga dan manusia menandatangi perjanjian damai. Kaum naga dan manusia saling bertukar ilmu pengetahuan. Naga sangat piawai dalam ilmu hitung dan ilmu lainnya yang bersifat fakta. Ibarat sebuah otak, naga begitu menggunakan otak kirinya dan berpikir begitu rasional. Mereka menekan emosi yang mereka miliki sejauh-jauhnya sehingga mereka sangat awam dengan yang namanya emosi dan kesopanan. Kedua kaum ini saling bertukar informasi. Naga mempelajari musik yang manusia buat dan hal lainnya yang membuat naga tertarik.

Naga memiliki bahasa sendiri disebut bahasa Motya. Hanya naga dan keturunannya yang mengerti akan bahasa ini. Oleh karena naga lebih pintar dari segi ilmu pengetahuan, termasuk memahami bahasa manusia, maka untuk berbaur (dan sesuai dengan isi perjanjian damai), ketika di hadapan manusia, kaum naga tidak menggunakan wujud aslinya. Mereka menggunakan wujud manusia dan memakai lonceng di bahu sebagai pertanda bahwa mereka sebenarnya adalah naga. Wujud ini dinamakan saarantas (disingkat saar). Inilah salah satu pendekatan yang kubilang berbeda. Umumnya (dari kisah-kisah yang sudah pernah kusimak, sih) naga tidak bisa berubah wujud menjadi manusia. Mereka berbicara seperti bahasa manusia dan tetap dalam wujud aslinya (bersayap, menyeramkan, dll). Di sini naganya lebih banyak dalam wujud manusia dan hanya beberapa kali ditampilkan dalam wujud asli.

Lanjut cerita, menjelang peringatan ke-40 tahun perjanjian damai antara manusia dan naga, terjadi insiden yang tidak diinginkan. Putra Mahkota kerajaan Goredd, Pangeran Rufus, dibunuh secara kejam. Caranya dibunuh mirip dengan cara seekor naga yang melakukannya. Beberapa kericuhan mulai timbul dan putra-putra St. Ordo mulai memusuhi para saar dan terang-terangan membuat rusuh. Seraphina pun terlibat membantu Pangeran Lucian Kiggs dalam menyelesaikan kasus ini tanpa menyadari bahwa Seraphina mempunyai rahasia yang mengerikan dan bisa membahayakan dirinya sendiri.

Secara ide cerita, ini kisah fantasy yang menarik digabung dengan deretan tokohnya yang masih belia. Hanya saja ada beberapa bagian yang masih belum membuatku puas. Misalnya tentang kematian Pangeran Rufus. Seingatku, hingga di halaman akhir, tidak ada kejelasan mengenai kronologisnya. Hanya dugaan dari Seraphina dan Pangeran Lucian. Memang, sih, buku ini memakai sudut pandang orang pertama (aku) yaitu dari sisi Seraphina-nya. Meski begitu aku masih merasa greget tidak puas, haha. begitu pula dengan kisah cinta yang dialami Seraphina yang sudah bisa ditebak. Meski agak complicated juga, sih, mengingat Putri Glisselda (tunangan Pangeran Lucian) termasuk protagonist di sini. Dan, ah, aku merasa simpati dengan sang Putri saat membaca adegan terakhir buku ini.

Salah satu ciri khas lainnya dari buku ini adalah musik. Seperti halnya Seraphina yang mahir memainkan seruling, dan ayahnya juga yang ternyata pandai bernyanyi, musik memainkan peran penting di kisah ini. Dari informasi di belakang buku, penulisnya memang menggemari musik dan bahkan dia bisa memainkan cello. Tidak heran, musik menjadi inspirasi penulisannya. Dan ini karya pertamanya pula. Banyak yang terkesan dengan karya perdananya ini.

Ya, terlepas dari kenyamanan dan ketidaknyamanan selama membaca kisah ini, aku masih mau membaca seri keduanya yaitu Shadow Scale. Beberapa orang (kubaca di Goodreads) complain karena ada jarak dua tahun dari seri pertama dan seri kedua. Mereka banyak yang sudah lupa dengan para tokoh dan kisah di seri pertama ini, padahal dulu mereka menyukai kisahnya. Menurutku, itu menandakan sesuatu kalau kisah ini tidak terlalu mengesankan mereka. Dan selang dua tahun kisahnya meredup di benak mereka. Namun banyak juga yang memberi respon postif. Lalu, kapankah aku bisa membaca Shadow Scale? Apakah aku akan melupakan kisahmu Seraphina? Hahaha, oke, ini penutup review yang aneh. #lupakan :D

Rating: Better

Submitted to:
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------

Oke, seperti biasa, aku akan mencoba menampilkan list quotes yang menarik yang bisa kutemukan dari buku Seraphina karangan Rachel Hart ini. Tidak banyak yang kudapat. Oleh karena itu aku gabung dengan postingan reviewnya. Mari, langsung kita simak. Mungkin ada yang kalian suka. :D

Dia biasanya memang lebih tenang daripada yang lain, barangkali karena selalu sibuk. (hal. 69)

“Biarkan mereka yang mencari keadilan bersikap adil.” (hal. 121)

“Kadang-kadang kebenaran sulit menembus tembok tebal yang mengungkung benak kita. Kebohongan, jika diselubungi kata-kata yang tepat, bisa disebarluaskan dengan mudah.” (hal. 283)

Satu kemungkinan di antara sejuta jauh lebih baik daripada nol. (hal. 414)

“Orang-orang berbuat aneh jika ketakutan. Aku tidak mempermasalahkannya.” (hal. 415)

Apa pun yang terjadi, sudah terjadi. Aku telah berdamai dengan masa lalu dan dengan masa depan. Lakukanlah apa yang menurutmu harus kau lakukan, dan jangan takut. (hal. 418)

“Anda mengabaikan pesan hanya karena tidak menyukai si pembawa pesan.” (hal. 420)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar