Rabu, 02 September 2015

Sleeping Murder – Misteri terpendam di rumah “baru” Gwenda

“Aku tidak mengatakan bahwa sesudah itu mereka bisa hidup senang, karena hukuman Tuhan ada bermacam-macam cara.” - Miss Marple

gambar diambil dari sini
Judul: Pembunuhan Terpendam
Judul asli: Sleeping Murder
Pengarang: Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: April, 2012 (cetakan ke-7)
Tebal buku: 320 halaman
ISBN: 978-979-22-7580-3

Setelah selesai membaca seri Hercule Poirot (Hallowe’en Party, Lord Edgware Dies), lalu seri Tommy and Tuppence (N or M), aku kembali membaca karangan Agatha Christie yang berjudul Sleeping Murder. Haha, kurangnya pengetahuan membuatku mengira jika buku Agatha yang beredar hanya bercerita tentang Poirot saja. Namun setelah membaca N or M, aku pun tahu ada seri Tommy and Tuppence. Lalu bagaimana dengan Sleeping Murder? Well, buku yang ini berbeda dari tiga buku lainnya. Seri ini bercerita tentang Bibi Jane atau Miss Marple dalam mengungkap sebuah kasus. Ya, kali ini kasus pembunuhan. Sedihnya, Sleeping Murder adalah karya terakhir dari seorang Agatha Christie.  

“Jane Marple perempuan tua yang menarik. Badannya tinggi kurus, pipinya kemerah-merahan, dan matanya berwarna biru. Tingkah lakunya lembut, tapi bicaranya sedikit cerewet. Di matanya yang berwarna biru itu sering terlihat ada kejutan.” (hal. 34)

Buku ini bercerita tentang Gwenda Reed baru saja menikah dengan Giles Reed. Pasangan muda ini ingin tinggal di rumah baru. Mereka memutuskan agar Gwenda yang mencari dan membeli rumah tersebut. Oleh karenanya, Gwenda berlayar dari New Zealand ke Inggris. Gwenda ingin membeli rumah yang dekat dengan pantai dan dia akhirnya membeli sebuah rumah bergaya Victoria di Plymouth, Inggris.

Sejak awal melihat rumah tersebut, Gwenda seperti sudah memiliki ikatan tersendiri dengan rumah ini. Beberapa kejadian aneh membuatnya berpikir jika rumah tersebut menyimpan sesuatu yang tidak wajar. Dari alam bawah sadar Gwenda muncul ingatan akan kematian seorang gadis muda bernama Helen yang dicekik oleh sebuah tangan berwarna abu-abu seperti tangan monyet.

Tidak tahan dengan kejadian ganjil yang menimpanya, Gwenda menenangkan diri ke rumah sepepunya di London. Di sanalah dia bertemu dengan Miss Marple dan meminta bantuannya. Miss Marple sudah mengingatkannya agar tidak lagi mengungkit kematian tersebut. Akan tetapi Gwenda dan Giles tidak bisa dicegah. Ketika mereka telah terlibat terlalu dalam dengan kasus ini, baru mereka menyadari bahaya apa yang sebenarnya mereka hadapi. Namun mereka sudah tidak bisa lari lagi.

Selalu, hal yang menarik (bagiku) dari hasil karya Agatha Christie adalah sisi psikologi yang Agatha tampilkan. Kita bisa mempelajari sisi psikologi manusia dan arti ari tingkah laku seseorang melalui novel-novel karangannya. Ini membuat novel Agatha bukan sekedar novel detektif dengan kasus criminal dan diselesaikan secara “kasat mata”. Ada kedalaman dalam alur yang dia jalin, ada kaitan dan pembahasan tentang psikologi manusia, dan ada pelajaran yang bisa kita ambil.

“Giles pria yang sangat menarik, bertubuh tinggi, kelihatannya jujur, dan agak pemalu. Miss Marple memperhatikan dagu Giles yang menandakan ketegasan juga bentuk rahangnya.” (hal. 49)

“Mata Mr. Fane yang berwarna sangat abu-abu dan pucat kini tampak aneh, lemah, dan tidak fokus. Sorot matanya seakan menyatakan dia sebenarnya tidak berada di situ.” (hal. 148)

“Dia berdiri di sana, jemari tangannya mengelus-elus rahangnya yang panjang, yang menandakan sifat orang yang suka berkelahi.” (hal. 209)

“Menurut para ahli biasanya memang begitu. Kalau kita tidak yakin atas diri sendiri, kita akan bersikap sombong, suka mempertahankan diri, dan cenderung bersikap menguasai.” (hal. 298)

Hal lainnya yang menarik bagiku adalah cita rasa klasik dari cerita-cerita yang Agatha tulis. Entahlah, aku rasa aku salah satu penggemar buku/novel klasik atau buku dengan latar belakang masa lalu. Aku suka dan penasaran dengan cara hidup manusia di masa silam. Aku pun suka dengan banyak nasihat yang dituliskan di novel seperti ini. Aku bisa mencoba untuk berimajinasi melalui gambaran-gambaran kisah yang disajikan oleh Agatha dan pengarang kisah klasik lainnya. Berimajinasi mengenai cara mereka berpakaian, cara mereka bersikap, terlebih sopan santun dan tradisi yang masih begitu terjaga. Ya, dan Agatha sendiri pun menulis buku-bukunya (boleh dibilang) di tahun-tahun yang lalu. Agatha tidak mereka-reka melainkan dia memang hidup di masa itu, masa silam.

Adapun satu informasi menarik lainnya dari buku ini terkait dengan budaya atau kebiasaan masyarakat di sana. Aku tidak tahu pasti, tetapi jika boleh kutebak, sepertinya kebiasaan ini masih hidup hingga sekarang. Baiklah kebiasaan yang aku bicarakan itu adalah kebiasaan memberi nama kepada sebuah rumah dan minum brendi ketika tidak enak badan. Beberapa nama rumah yang sempat disebutkan di sini antaralain Hillside, Calcutta Lodge, dan Linscott Brake. Sementara mengenai minuman Brendi, aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak mengenai apa dan bagaimana rasanya ataupun khasiatnya untuk kesehatan. Aku rasa itu sejenis minuman beralkohol. Namun berikut kutipan dari novel tersebut mengenai kedua informasi yang kuanggap menarik tersebut.

“Dia masih mempunyai kenangan samar-samar mengenai tempat ini, bahwa Hillside sebenarnya rumah tempat dia dulu pernah tinggal, akan tetapi Gwenda tetap merasa kurang yakin.” (hal. 70)

“karena kelihatannya ayah Anda baru datang dari India. Rumah Anda ini namanya Calcutta Lodge, bukan?” (hal. 72)

“… Saya Mrs. Reed. Kami mendengar informasi tentang sebuah rumah. Namanya Linscott Brake. Apakah… apakah Anda tahu sesuatu tentang rumah itu?saya rasa letaknya tidak jauh dari rumah Anda.” (hal. 282)

“Melihat Mrs. Crocker sukar bernapas dan wajahnya berubah biru, Gwenda jadi takut dan cepat-cepat pergi ke lemari tempat minuman, menuangkan sedikit brendi untuk Mrs. Crocker supaya diminumnya sedikit demi sedikit.” (hal. 294)

Jika bicara soal penampilan, novel ini dikemas dengan manis sekali. Tidak seperti seri Poirot serta Tommy dan Tuppence, warna dominan cover buku ini adalah merah marun dan putih. Ada gambar ular derik yang menjulurkan lidahnya di bagian tengah cover bagian depan. Judul buku, nama pengarang serta si ular tadi di cetak timbul sehingga memberikan kesan elegan dan menarik. Ya, walaupun aku lupa apa hubungannya ular derik dengan alur cerita di novel ini, haha. Oh ya, tulisan di dalam buku ini juga dicetak dengan rapi serta tidak ada huruf yang berbayang seperti produk bajakan atau cacat.

Cerita karangan Agatha selalu menarik perhatianku. Walaupun bukan cerita jaman modern namun alurnya menarik. Kasus yang digulirkan pun tidak rumit ataupun murahan. Ketika membaca bukunya, kita juga seolah diajak untuk menganalisa dan membantu si detektif dalam memecahkan kasus tersebut. Dan membaca buku selalu jadi hal yang menyenangkan. Bahkan melalui novel kita bisa memperoleh informasi baru seperti hal-hal yang kuceritakan di atas. Ah, baiklah, aku juga ingin membaca serial detektif rekaan penulis Indonesia. Dulu pernah membaca satu judul, hanya saja sudah lupa karena sudah lama sekali. Mungkin nanti akan ada kesempatan untuk membaca dan mereviewnya. Bagaimana dengan kalian? Apa serial detektif kesukaan kalian? :)

Rating: The Best

Tidak ada komentar:

Posting Komentar