Jumat, 26 Juni 2015

Gone (Tiada) – Penutup yang mengaduk Perasaan

Ada hal-hal yang justru lebih mudah jika dilakukan sendirian.

gambar diambil dari sini

Judul: Tiada
Judul asli: Gone (Trilogy)
Pengarang: Lisa McMann
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober, 2010
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-979-22-6286-5

Yeah, berhasil menyelesaika Gone (Tiada) bagian ketiga dari trilogy Wake. Dan buku seri terakhir ini lebih serius dan benar-benar mengaduk perasaan. Baik itu, perasaan kesal, perasaan gemas, juga sedih. Aku sampai 2 kali menangis ketika menuju akhir dari kisah di buku Gone ini.

Melalui buku ini, Janie bertemu dengan ayahnya dalam kondisi koma dan sekarat di rumah sakit. Dan terungkap pula darimana dia bisa mendapatkan kekuatan sekaligus kutukan: tersedot ke dalam mimpi seseorang. Janie kalut bagaimana memutuskan langkah yang diambil untuk masa depannya. Dia berhadapan dengan Morton's Fork alias buah simalakama. Apapun yang dipilih, masing-masing membawa konsekuensi yang tidak menyenangkan.

Apa kabar Cabel? Haha, cowok itu masih memukau. Namun lebih memukau ayahnya Janie, Henry Fiengold. Oke, memukau dalam urusan cinta. Haha, baiklah sedikit Spoiler, Henry tidak tahu jika dia memiliki anak dari "cinta sejati seumur hidupnya" yaitu Dorothea, Ibu Janie. Bagaimana dia begitu mencintai Dottie (nama panggilan Dorothea) hingga akhir hayatnya itu sesuatu, hehe.

Dan aku benar-benar gemas bercampur kesal, salah satunya, melihat tingkah Dorothea. Dia benar-benar Ibu yang tidak bertanggungjawab. Oke, mungkin itu sedikit keras. Dia seharusnya mendapatkan pertolongan. Depresi yang berujung kepada alkohol, membuatnya bertukar peran dengan Janie. Ya, Janie lebih mirip Ibu untuk Dorothea. Seandainya Dorothea lebih tegar dan melanjutkan hidup. Bukan tenggelam meminum vodka setiap hari yang bisa membuat livernya membusuk.

Well, ketika membaca awal mula buku ini, bagian ucapan terimakasih, Lisa sang Pengarang sepertinya memang sengaja memasukkan unsur orangtua pemabuk dan efeknya kepada anak-anak mereka. Seperti ayah Cabel yang telah membakarnya sewaktu kecil. Lalu Ibu Janie yang mengabaikannya dan membuatnya super mandiri. Ya, Lisa mengajak siapapun di luar sana yang mengalami masalah yang sama, mampir ke situs al-anon.alateen.org. Hmm, aku tidak mengecek situs tersebut, hanya jika ada yang membutuhkan, silakan mampir ke sana. Mungkin bisa mendapat bantuan.

Yeah, di buku ini intinya Janie mencoba berdamai dengan masalahnya lalu membuat pilihan untuk kehidupan masa depannya. Untung dia masih memiliki Cabe, yang begitu setia. Begitu pula dengan Kapten Fran Komisky yang membuatnya merasa memiliki keluarga. Pun Carrie, sahabatnya yang kompak.

Jika melihat dari kedua seri sebelumnya, aku bisa menemukan benang merah yang mungkin bisa menjadi ilmu jika ingin membuat serial, hehe. Di buku pertama, Lisa menjawab pertanyaan "apa, dimana, dan kapan" awal mula kekuatan Dream Catcher yang Janie miliki. Lalu dibuku kedua dia berkenalan dengan "bagaimana" mengendalikan kekuatan tersebut. Barulah diakhir seri, Janie mendapat jawaban tentang "siapa dan mengapa" dia mendapatkan kekuatan tersebut. Ya, mungkin benang merah tersebut bisa dijadikan ramuan untuk membuat trilogy ataupun novel berseri seperti ini. Hehe, ini pendapat awam-ku, sih. Silakan direvisi. :)

Well, aku enjoy membaca kisah trilogy ini. Seri bukunya juga cuma 3, tidak terlalu panjang. Kata-kata yang digunakan ringan, cocok untuk intermezo dari bacaan yang serius. Kertas dan packaging-nya juga menarik, walaupun di seri ketiga ini tidak ada pembatas bukunya, haha.

Oh ya, perihal quotes, memang tidak banyak. Dari buku ini, aku hanya menemukan 5 yang menarik (menarik versi aku-nya ya). Baiklah, kututup postingan ini dengan list quotes tersebut, ya. Selamat hari Jumat dan selamat berpuasa. :)

Rating: Better
----------------------------------------------------------------------

[Quotes] Gone by Lisa McMann

Mimpi tidak pernah berlibur seperti manusia. (Hal. 14)

Ada hal-hal yang justru lebih mudah jika dilakukan sendirian. (Hal. 41)

Mungkin hati yang hancur bisa lebih mudah pulih daripada tangan dan mata yang rusak. (Hal. 52)

Karena dengan orang yang tepat, kadang berciuman terasa bagai penyembuh hati. (Hal. 66)

Ada sikap saling menghargai. Kedalaman perasaan. Sikap tidak mementingkan diri sendiri. Serta rasa saling memahami yang jauh melampaui semua hal buruk lain. Selain itu ada cinta. (hal. 209)

Tidak ada komitmen. Tidak ada rencana-rencana besar. Hanya menjalani hidup, setiap hari. Maju terus tanpa tekanan. (hal. 209)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar